24. 10++ TAHUN MENJADI ABDI NEGARA: SEBUAH CATATAN SELEWAT

Salah seorang teman tidak seprofesi nyeletuk, awet juga lo ya jadi abdi negara.



Lalu apa hubungannya dengan foto berlatar New York di atas? yuk kita urai


Celetukan pembuka tulisn tadi membuatku sadar, ternyata sudah 10++ tahun (dipotong masa tugas belajar) lebih sudah jadi ASN (Aparatur Sipil Negara), atau yang dulu dikenal sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil).  Satu profesi yang tidak pernah aku bayangkan, tapi God only knows malah menjadi pijakan pertama dunia kerja seusai tamat kuliah, dan bertahan hingga saat ini.


Menjalani profesi ini, yang sayangnya makin lama makin dipenuhi konotasi negatif, tentunya semua aku terima satu paket - baik dan buruknya. Tapi selayaknya profesi lain, it has its cracks and challenges. Tapi aku akan coba rangkum dalam beberapa point dalam postingan ini.


[1]. It's not only rainbows—there are storms, too.


Hal yang terlintas menjadi ASN mungkin adalah tingkat kenyamanan jangka panjang. Tapi sebenarnya, tidak selalu begitu. Kadang-kadang aku dihadapkan dengan hal-hal yang lucu dan aneh. Misalnya, suatu saat ketika sedang bertugas di hamparan hutan yang akan dijadikan kebun sawit, aku dikejar oleh induk babi hutan yang sarangnya tidak sengaja kuinjak. Atau saat aku pernah pingsan karena tersesat di hamparan luas lahan yang terkena banjir setingga dada orang dewasa. Atau juga karena minimnya pengetahuanku akan fauna lokal, suatu waktu aku pernah santai menunggu biawak mendekati, yang ternyata adalah buaya kodok.


Hal-hal tidak enak di luar kegiatan fisik, misalnya ketika harus terpapar dengan politik kantor dan drama birokrasi. Hal yang aku rasa juga lumrah ditemui di profesi apapun, namun memang kayaknya harus akrobat penuh untuk bisa menghadapi dengan elegan. 


Belum lagi kalau ketemu dengan budaya passing the duck, yang pada intinya mendelegasikan tanggung jawab ke orang lain yang dianggap 'bisa'. Hal yang lumayan sering aku lakukan saat 20an hingga awal 30an. Tapi wise man says kan coba uraikan banyak permasalahan dan jadikan sebagai pembelajaran. Hal ini yang selalu ampuh mengatasi kedongkolanku melihat orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Walau terkadang yang mereka harus diberi teguran sesekali, supaya tidak ada pembiaran terhadap kelalaian.


[2]. Just one more step— you’re not done yet.


Perihal stigma Gen Z yang kutu loncat dan tidak nyaman, sebenarnya hal yang bisa terjadi juga dengan generasi di atasnya, generasiku. Ada waktu ketika aku mencoba merefleksikan karirku dengan teman sebaya di berbagai sosial media. Jelas mungkin dengan jenjang karir yang tidak sedinamis dunia swasta, bekerja sebagai ASN tentunya dibatasi dengan peraturan pola karir yang  saklek. Jelas juga kadang label posisi tersebut akan berbanding lurus dengan tingkat pendapatan, dan hal-hal keistimewaan lain yang membuatku terlena dan 'iri'.


Tapi posisi ini juga kadang timbul karena kejenuhan akan rutinitas kerja. Menyelesaikan tugas menjadi sekadar formalitas saja. Hari-hari terasa berulang, motivasi memudar, dan semangat menghilang di antara rapat, laporan, dan birokrasi. Taken as a whole, you want to give up.


Sampai suatu hari aku mengambil keputusan untuk jeda dengan lanjut S2 di Australia. Jeda berkedok study ini ternyata efektif. Bahwa kemudian dengan ilmu yang didapat, pengalaman yang digenggam, aku yang tadinya mungkin jenuh karena sudah merasa 'bisa' semua, ternyata tidak tahu apa-apa. Banyak sosok baik dan berintegritas yang kutemui dan bekerja dalam senyap, dan aku bisa belajar bahwa masih banyak ruang-ruang pelayanan publik yang harus ditingkatkan, yang kalau tidak mulai dibenahi sama orang dalam, akan susah untuk diperbaiki. Jadi kalau menyerah, jangan dulu deh. You're not done yet.


[3]. Find a mentor,  your people, and your tribe.


Dulu pernah baca, katanya there's such thing like - keep the wall high. Konteksnya adalah untuk menjaga profesionalisme, ada baiknya untuk menjaga batas emosional dan pertemanan. Tapi jika temboknya terlalu tinggi, justru ruang kolaborasi, ruang untuk tumbuh menjadi terhambat. Maka sepertinya ungkapan ini perlu direvisi, profesionalisme bukan berarti dingin atau tertutup. Justru dalam batas yang sehat, kita bisa membangun kepercayaan, kerja sama yang kuat, dan budaya kerja yang saling mendukung.


Hadirnya beberapa Mentor dalam perjalanan karir merupakan sebuah anugerah tersendiri. Mentor-mentor tadi menstimulasi dinamika dalam bekerja, membantu aku bertumbuh secara profesional dan personal. Kadang kedewasaan itu muncul dari pengingat "sebelum kamu suruh orang lain, pastikan kamu bisa ngerjain sendiri dengan baik", atau "coba abang renungkan dan pikirkan, yang abang kerjakan ini dampaknya bisa ke beberapa tahun ke depan", serta pengingat lain yang sangat mendewasakan.


Walaupun di awal aku sempat nyebut politik kantor, tapi kadang justru kita perlu berkumpul dengan orang-orang yang satu frekuensi, the ones who share your values, cheer for your growth, and accept you without judgment, your people- your tribe. 


Sekumpulan orang inilah yang menjadi alasan untuk maju, dan tidak merasa sendirian di tengah hutan belantara.


[4]. It will make you go places- somehow.


Secara harfiah, bekerja sebagai ASN Kementerian vertikal, hal yang aku harus sadari sedari awal adalah adanya perputaran pola karir - rotasi, mutasi, promosi yang jalur geografisnya satu nusantara. Jadi harus siap untuk bisa bekerja dari mana saja. Sejauh ini aku dibekali pengalaman mengabdi di beberapa kabupaten/kota, provinsi hingga Pusat, dengan tugas yang juga beragam, dari beragam teknis hingga administratif. Penugasan ini tentunya membawaku ke banyak wilayah kerja, dan bidang kerja.


Selain itu, terkadang pekerjaan ini juga yang membawaku ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa kubayangkan bisa dikunjungi, tempat-tempat yang kulihat dari layar televisi. 


Suatu pagi ditemani kopi arabica dan donat kampung ala western di Victoria Market, Melbourne. Suatu sore menikmati matahari terbenam di Buda Castle,  Hungaria. Suatu malam dengan hingar bingar Times Square, New York  yang tidak pernah tidur. Atau bahkan lanskap gumpalan hijau yang melambai di bukit Labuan Bajo, biru laut lukisan Raja Ampat yang menyimpan rahasia karang. Semuanya bisa aku kunjungi walaupun dengan mode: sambil bekerja kaki di kepala, kepala di kaki- tapi adalah sebuah hal yang harus disyukuri.


It will make me go places- literally and figuratively.


[5]. You figure things out.


Aku pernah baca bahwa kultur kutu loncat dengan karakteristik berpindah-pindah pekerjaan dalam waktu relatif singkat, sering kali demi gaji lebih tinggi, jenjang karier lebih cepat, atau lingkungan kerja yang dianggap lebih ideal. Bila industrinya memungkinkan, hal-hal ini sah saja dilakukan.


Pada point [2] di atas, tentunya aku secara pribadi pernah berpikir untuk keluar, biasanya timbul dari keputusasaan akan situasi atau merasa stagnan. Hingga aku lumayan menyadari bahwa, aku suka kenyamanan tapi bukan berarti tidak mau berkembang.


Boleh setuju atau tidak, tapi

working in the same place for a long time teaches you more than just skills—it teaches patience, resilience, and the quiet strength of loyalty. You don’t just grow in your role, you grow in how you handle people, pressure, and purpose.


I figure things out like; how to serve within the system without losing system, bahwa loyalty doesn’t mean silence, dan berdampak tidak selalu datang dengan gemuruh tepuk tangan, atau sesimple bagaimana menavigasi tekanan, politik dan mempertahankan tujuan (baca: idealisme) secara bersamaan.


Rasanya lega juga menuliskan hal ini, semoga bisa menjadi jawaban yang cukup lugas soal kenapa aku bertahan selama ini menjadi ASN. Agak susah juga ya menuangkan poin-poin utama ini secara lugas dan netral. Bukan karena sebenarnya banyak yang dikeluhkan, tapi layaknya surat cinta: kejujuran, keberanian membuka diri dan ketulusannya harus bisa disampaikan dengan baik. Asik!



Comments

Popular Posts