26. MENANGIS DI CENTRAL PARK

Kata orang, menangis punya dua arti. Ia bisa muncul karena bahagia yang tak tertampung, yang sering disebut tangis bahagia. Atau karena kesedihan yang terlalu dalam untuk diurai. Tapi mungkinkah air mata jatuh karena keduanya datang bersamaan.

"Aku habis lari sendirian sambil nangis di Central Park."


"Kenapa? Dramatis sekali sih?" ujar temanku di ujung suara. Terasa dekat, tapi tetap berjarak, terpisah dua belas jam perbedaan waktu.

Pertanyaan itu tak bisa kujawab saat itu juga. Bukan karena tak mau, tapi karena aku sendiri belum menemukan jawabannya. Mungkin air mata itu turun begitu saja. Sebagai penutup dari hari hari panjang yang kuhabiskan di negara yang katanya adidaya itu. Alih alih menjelaskan, aku memilih memutus sambungan. Menepi sebentar di gerai kopi yang sudah lama kuincar. Blue Bottle.

Tiga hari sebelumnya.

Perjalanan dinas kali ini memang jauh. Terlalu jauh untuk satu kali penerbangan. New York dan Washington DC. Misi yang dibawa cukup penting. Dan belakangan baru kusadari, hasilnya lumayan mengamankan jalur pendanaan operasional kantor setelah efisiensi tahun 2025.

Aku tidak sendiri. Tapi jadwal kunjungan dan pertemuan yang bertubi tubi, ditambah minimnya pemahamanku soal spasial kota dan jarak antar lokasi, membuatku sering terlihat kikuk. Mengatur alur kegiatan terasa seperti tugas besar yang harus dipelajari sambil jalan. Kepanikan kecil muncul setiap kali memastikan dokumen, baik digital maupun cetak, sudah lengkap dan benar.

Belum lagi urusan transportasi. New York ternyata tidak jauh beda dengan Jakarta. Macetnya bisa panjang dan melelahkan. Washington pun tak kalah rumit. Mencari parkir terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Namun entah bagaimana, semua agenda resmi berjalan baik. Konferensi selesai sesuai rencana. Negosiasi pendanaan mengalir lancar. Kunjungan bilateral dengan beberapa negara juga terlaksana tanpa kendala berarti.

Lancar, meski jika melihat riwayat tidur, aku hanya beristirahat tiga sampai empat jam per hari. Itu pun masih harus beradaptasi dengan perbedaan waktu.

Dua hari sebelumnya.

Setelah semua urusan di Washington benar benar selesai, aku tak perlu lagi bolak balik DC dan NYC. Aku menetap di New York hingga waktu pulang ke tanah air.

Dalam hati, aku merasa inilah saatnya sedikit bernapas. Melihat kota yang oleh Alicia Keys disebut sebagai concrete jungle where dreams are made of. Atau kata Frank Sinatra, if you can make it in New York, you can make it anywhere. Aku penasaran, apa sebenarnya yang membuat kota ini begitu membius.

Dengan waktu yang terbatas, aku menyusun daftar singkat kunjungan.

Times Square, terutama 1515 Broadway, lokasi syuting Total Request Live MTV. Acara musik harian yang dulu rasanya sangat ikonik. Tempat orang orang berdiri berjam jam, mengangkat papan berisi pujian untuk musisi favorit mereka. Semacam cikal bakal acara Dahsyat RCTI.

Plaza Hotel, latar Home Alone 2. Tempat Kevin kecil bertahan hidup sendirian di New York, sambil mengakali dua penjahat yang terlihat sangar tapi mudah dikerjai.

Empire State Building, saksi amarah King Kong. Grand Central Station, pusat pertemuan dan perpisahan dalam banyak film Hollywood. Patung Liberty, ikon abadi yang sering dikaitkan dengan harapan hidup baru.

Semua kudatangi dalam satu hari. Padat, melelahkan, tapi memuaskan.

Satu malam sebelumnya.

Broadway sudah lama hidup dalam ingatan sejak kecil. Moulin Rouge. Wicked. Phantom of the Opera. Malam itu aku berhasil membujuk rekan kerja untuk menonton The Lion King. Mereka setuju, meski dengan kemungkinan tertidur karena jet lag dan fisik yang sudah terkuras.

Pertunjukan berlangsung sekitar dua setengah jam dengan jeda singkat. Dimulai dengan Circle of Life yang megah. Disusul Hakuna Matata yang ringan namun bermakna. Lalu He Lives In You yang terasa magis. Sebuah pengalaman yang hangat dan entah kapan bisa terulang.

Dalam perjalanan pulang ke hotel, tanganku menggenggam booklet dan beberapa suvenir cetak dari pertunjukan. Udara dingin dan stamina yang mulai menurun membuat suasana terasa sendu, tapi di saat yang sama ada semacam api kecil yang menyala.

Satu lokasi lagi, pikirku.

Central Park.

Aku mengirim pesan singkat ke salah satu atasan, memberi tahu bahwa aku ingin lari pagi lebih dulu. Tidak ada balasan. Kuanggap aman untuk mencuri satu hingga dua jam lebih sedikit untuk diriku sendiri. Rencananya sederhana. Lari lima kilometer, cari kopi, lalu kembali ke hotel untuk sarapan.

Satu kilometer pertama terasa ringan. Aku ditemani tupai yang mondar mandir di pepohonan. Orang orang yang berjalan dengan anjing peliharaan. Pelari dalam kelompok kecil maupun besar. Pesepeda. Kota ini hidup sejak pagi.

Lalu tiba tiba aku merasakan sesuatu menetes.

Kupikir hujan.

Ternyata bukan.

Itu air mataku sendiri.

Aku mengusapnya pelan, mencoba memahami apa yang terjadi. Tapi kakiku tetap melangkah. Aku tidak berhenti hingga jarak lima kilometer tercapai.

Setelah lari, tubuhku meminta kopi. Aku menuju Blue Bottle. Tak lama. Kopi di tangan, waktu semakin sempit. Aku kembali ke hotel.

Aku teringat bahwa beberapa rute yang kulalui dekat dengan lokasi adegan film Past Lives. Aku memilih pulang lewat East First Street. Tempat Hae Sung dan Nora berpisah. Nora berjalan menjauh, dari senyum tipis hingga tangis yang tak tertahan. Banyak yang menafsirkan tangisan itu sebagai kesadaran. Bahwa waktu telah mengubah banyak hal. Bahwa ada masa lalu yang harus dilepaskan. Bahwa hidup memang tidak selalu sederhana.

Aku pernah membaca bahwa menangis saat berlari adalah hal yang wajar. Saat tubuh melepaskan hormon dan energi berlebih, ketika otak dan fisik lelah, tubuh memberi ruang untuk melepas sesuatu. Sebuah mekanisme bertahan agar kembali seimbang.

Apa pun penjelasannya, menangis di Central Park terdengar seperti pengalaman yang layak dikenang.

Bukan sebagai kisah anak daerah yang menginjakkan kaki di Amerika. Tapi sebagai pengingat bahwa hal hal yang dulu terasa mustahil, perlahan bisa menjadi nyata.

Aku mungkin tidak sedang mengubah dunia. Tidak juga sedang menginspirasi siapa siapa. Tapi bisa berdiri di pusat pusat pop culture saat dewasa, rasanya tetap membanggakan.

Walau ternyata sampai di sana pun tetap harus lelah. Tetap harus bekerja keras. Bahkan sampai menangis.

Tapi setidaknya,

menangis di Central Park.

Comments

Popular Posts