01. TIDAK ADA KELAS, DALAM PERKOPIAN.
Suatu sore saya diberi kesempatan langka pulang kantor saat matahari masih terbit. Di sela perjalanan pulang antara stasiun MRT dan kos, saya melihat banyak kumpulan karyawan berbagai lapisan profesi dan kedudukan (asumsi pribadi), duduk berdampingan menikmati rokok dan obrolan sore dengan berbekal kopi starling. Starbucks keliling katanya.
Menarik bahwa dahulu sebelum budaya ngopi di kafe bermunculan, kopi seduh rumahan sebenarnya sudah eksis menjadi kebutuhan kepala keluarga setiap pagi. Kopi khas olahan peranakan muncul di tempat sarapan menemani roti sarikaya. Kantin-kantin perkantoran sesak dengan bapak-bapak berbincang sembari melempar jokes yang kadang jorok. Oh siapa sih yang tidak menikmati jokes bapak-bapak?.
Kemudian kopi hadir di awal 2000an di Indonesia dalam bentuk lebih mewah, berbalut tempat yang sekarang dibilang cozy dan instagramable. Patokan harga menjulang dianggap wajar untuk menutupi biaya operasional. Yang menganggap wajar ya tidak masalah, selebihnya harus menghitung kocek dalam-dalam demi bisa menikmati kenyamanan yang katanya relevan.
Segregasi sosial pun timbul. Saat citayam fashion week jadi bahan perbincangan, starling muncul sebagai identitas kelas menengah ke bawah. Namun publik di saat bersamaan heran begitu tahu bahwa keuntungan yang bisa mereka ambil sangat fantastis, jika dibandingkan dengan modal yang harus dikeluarkan.
Pendapat saya, kopi adalah selayaknya udara. Orang bebas menghirupnya dari belahan dunia mana saja. Bedanya udara untuk memenuhi kebutuhan bernafas, kopi hadir untuk membangunkan jiwa-jiwa kurang tidur dan butuh menunda tidur. Kopi juga sebagai media untuk guyub berbincang, sambat mengenai keseharian yang tidak bisa ditebak.
Tidak peduli kopi mana yang kamu pilih, yang katanya ada dicampur dengan kulit jagung atau fermentasi pencernaan hewani pun, semuanya berhak minum kopi dengan tujuan apapun. Tidak ada kelas dalam perkopian.
Lokasi foto: Pedestrian Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.


Comments
Post a Comment