04. WAJAH KOTA, YANG MEMBENTUK SAYA.
Jogjakarta, Jambi, Bandung, Jakarta, Bungo, Merangin dan Melbourne. Saya pernah tinggal di tujuh kota ini setidaknya lebih dari tiga bulan. Ada kota yang gemerlap dan serba lengkap. Ada juga kota yang kalau di atas jam 8 malam sepi, dan serba terbatas.
Alasan untuk tinggal di beberapa kota ini beragam, ada yang karena alasan belajar, kepentingan mencari pekerjaan, dan tempat bekerja yang berpindah-pindah menyesuaikan penempatan.
Hal ini membuat konsep menetap dan settle down jadi sulit untuk dicerna. Seringkali terlintas di pikiran, pola hidup ini terasa melelahkan. Untuk menetap seolah sia-sia, karena toh nantinya juga akan pindah lagi. Tapi itu dulu.
Saya teringat satu scene film Love Actually yang berlokasi di London Heathrow Airport. Suasana di airport terasa hangat ketika ada yang menyambut kedatangan orang tersayang, penuh dengan senyuman. Tapi ada juga yang menangis ketika harus melepas orang terkasih pergi ke tempat yang jauh.
Melewatii fase-fase pindah, adaptasi dengan lingkungan baru, lalu berpindah lagi membuat arti kata pulang jadi berliku. Tapi satu hal yang selalu sama, bahwa setiap kota memberikan saya pelajaran tersendiri. Tinggal di lokasi yang jauh dari lengkap bukan berarti tidak bisa bahagia, dalam keterbatasan semua bisa saja terpenuhi walau kadang menunggu. Tinggal di lokasi yang serba ada pun jika tidak bisa menahan dan mengatur keuangan bisa jadi jebakan bagi finansial kita.
Belajar menyelami ciri khas individu dari masing-masing daerah pun bermanfaat dalam membentuk puzzle kepribadian. Yang tulus kadang ditemui dalam kepolosan dan ke-apa-adanya. Yang memperkeruh tak jarang hadir melalui topeng-topeng keramahan plastik.
Sambil menghitung waktu bulan sebelum memulai petualangan baru di tahun depan, saya ingin menyelami Jakarta lebih dalam. Melalui wajah pinggiran kota yang bersahaja, gedung-gedung dengan lampu terang yang menghiasi langit keruh polusi, dan baik-buruknya.
Lokasi foto: Yogyakarta International Airport (YIA).


Comments
Post a Comment