05. IDEALNYA AKU BEGINI, BUKAN BEGITU.
Kalau melihat foto di atas, bayangan kita pasti akan berkomentar betapa kumuh dan tidak sehat hunian itu. Foto ini diambil di Desa Tanjung, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Ini adalah hunian suku anak dalam (SAD) yang kemudian kami lakukan konsolidasi menjadi rumah semi permanen layak huni. Layak huni sesuai definisi modern, yang melihat variabel jenis atap, jenis dinding dan jenis lantai. Sanitasi yang baik, serta ketersediaan suplai air bersih dan kriteria lainnya.
Pertanyaan menggelitik adalah ketika konsep peremajaan yang dipilih kemudian hari adalah semi permanen. Bahan utama kayu dan sekat-sekat minimal yang tidak sesuai dengan label ‘layak huni’ tadi.
Rupanya hal ini adalah kesepakatan bersama yang sudah diambil antara pihak perwakilan SAD dan pemerintah daerah, serta stakeholder lain termasuk kantor tempat saya bekerja.
Mereka (SAD) ternyata masih menjalankan prinsip nomaden. Berpindah-pindah secara berkesinambungan, bertahan hidup dengan cara berburu dan meramu bahan yang disediakan alam. Sehingga hunian semi permanen ini bisa dijadikan sebagai tempat singgah, bilamana kegiatan berburu dan meramu tadi tidak membuahkan hasil.
Memperhatikan hal-hal ini membuka cara pandang saya tentang ideal. Konsep ideal kadang-kadang kita paksakan pada kaum minoritas, bahwa yang sepertinya baik bagi kita dipaksa harus baik bagi orang lain. Padahal mungkin tidak. Sayangnya ruang dialog sulit menemukan titik temu, jadinya suara marginal ini menjadi tidak lumrah bagi konsep kebanyakan orang.
Hal-hal ini sering kita temui sehari-hari. Saya belakangan ini suka merasa aneh karena cenderung lebih santai dan nggak ngoyo, melihat sekeliling yang ada di masa prime time meraih seribu satu pencapaian, seperti yang tertera di laman Linkedin. Padahal balik lagi, mungkin konsep ideal bagi saya ya yang begini-begini saja. Realitas begini-begini saja terasa nyaman buat dijalani, nggak usah dipaksa untuk jadi yang di luar keinginan.
Lokasi foto: Desa Tanjung, Sarolangun, Jambi.


Comments
Post a Comment