08. BERLARI TIDAK DARI, KENYATAAN.
Teringat sekitar dua tahun lalu, saat saya baru mulai kembali aktif gowes, dalam satu sesi saya terduduk dengan muka pucat di tengah jalan. Sulit bernafas dan hampir pingsan. Setelah dievaluasi penyebabnya adalah: saya kurang tidur malam harinya, tidak sarapan dan kelewat semangat gowes tanpa mengatur nafas serta menghitung energi secara tepat.
Minggu depannya saya nggak terlalu ngoyo. Ya mau ketinggalan dari yang lain ndak apa, asal tidak tertinggal jauh. Akhirnya sadar bahwa urusan begini adalah perkara berkompetisi dengan diri sendiri, sembari mengetahui limit/batas fisik saya pribadi.
Lambat laun saya bisa menjaga pace, mulai bisa mengimbangi kecepatan teman-teman gowes lainnya, tanpa ada rasa capek yang terlalu setelahnya.
Dua bulan lalu saya menerima tawaran atasan untuk ikut virtual race dalam rangka ulang tahun kantor. Kali ini cabang olahraganya lari. Selama sebulan lebih masing-masing kami harus menyelesaikan 62 km untuk bisa disebut finisher.
Saat iseng lihat history strava dan nike run, terakhir rutin lari adalah Maret 2020. Penasaran dengan kemampuan lari saat ini, saya langsung saja nekat lari 5 km dalam satu sesi. Catatan waktunya mengecewakan, dengan bonus nafas tak beraturan yang artinya saya lupa cara mengatur pernafasan yang benar.
Pada minggu kedua, saya mulai ingat pada tragedi pingsan gowes dulu. Saya putuskan untuk pelan-pelan membenahi teknik berlari, tidak terlalu keras mengejar target waktu yang tidak masuk akal. Dalam hati berniat cari sehat dan berkompetisi dengan diri sendiri. Pada akhir setoran, saya bisa mengumpulkan 74 km dalam satu bulan dengan pace yang membaik setiap minggunya.
Memang benar, berproses itu menyenangkan, terutama yang melibatkan diri sendiri. Perkara urusan fisik mungkin tidak seberapa pusing, berproses melatih mindset ternyata bisa mempengaruhi banyak hal. Mindset yang baik, latihan dan bersabar, nanti tahu-tahu akan mengerti kenapa proses itu penting.
Yang lebih penting sekarang, bagaimana catatan2 lari dan gowes tadi tidak kemudian terpendam bertahun-tahun. Nanti hasilnya ya belajar dari nol lagi. Oh iya lupa, berproses sih gampang, konsistensi yang susah. Aduh
Lokasi foto: GBK, Jakarta


Comments
Post a Comment