13. SIAPA TENANG, DIA BIASANYA MENANG.
Saya sebenarnya nggak terlalu suka sepak bola, lebih suka tenis, namun rasanya sayang juga kalau melewatkan moment berkelas dunia seperti Piala Dunia 2022. Setelah penuh drama berkejaran gol pada dua babak dan perpanjangan waktu, Argentina menang dari Prancis melalui adu pinalti.
Oke, saya nggak akan membahas soal sepak bola sebagai cabang olahraga dan teknis lainnya. Menarik untuk mengamati gerak gerik dan raut muka para punggawa Argentina saat adu pinalti. Mereka terlihat lebih tenang dan siap menghadapi gawang serta penuh perhitungan. Hal ini yang tidak saya temukan pada pemain Prancis.
Laga final kemarin memang bukan lagi soal kemampuan tim mana yang lebih baik, melainkan adu mental dan kesabaran dari personel tim. Mereka yang tenang dan tidak terburu-buru akan memanfaatkan situasi untuk menyerang. Mereka yang tidak sabar akan terlihat gugup dan gegabah saat melakukan serangan ke gawang. Untungnya Messi, dengan segala pendewasaaan dan pengalaman ribuan jam di lapangan, bisa memimpin empat orang lainnya dengan baik. Berakhir pada kemenangan.
Sebagai orang yang dulunya amat sangat ambisius (lalu capek sendiri) dan sekarang memilih untuk lebih santai (namun serius), saya lumayan bisa berkaca pada dua situasi ini. Ambisi dan ketidaksabaran kadang berbenturan dan menjadi penghambat dari sebuah keberhasilan. Belum lagi kalau sudah gagal kadang berfikir bahwa diri ini kurang inilah kurang itulah, padahal mungkin ya memang belum rezekinya.
Titik balik dari perubahan untuk lebih santai, saya temukan tahun kedua masa kuliah sarjana. Saya menemukan bahwa terlalu keras pada diri sendir itu nggak baik. Ambisi dan keinginan menjadi sempurna membuat tidur saya nggak nyenyak, saya juga cenderung merasa kurang produktif kalau hanya diam saja. Belum lagi jadi lebih judgemental sama sekeliling yang bagi saya nggak sesuai dari norma standar pribadi.
Saya terus melatih diri untuk lebih tenang, lebih bisa menerima kalau sebaik-baiknya kompetisi itu adalah bisa berkompetisi dengan diri sendiri, dan akan menang banyak kalau bisa mengendalikan ambisi pribadi. Tapi juga tetap punya ambisi (karena itu perlu), namun mencapai tujuan itu tidak perlu terlalu ngoyo. Saya mencoba untuk tenang dan tetap bekerja keras sesuai kemampuan dan belajar sabar, karena semakin bertambahnya waktu dan pengalaman, saya merasa dua hal ini yang bisa menghantarkan saya ke ketenangan tanpa lupa meraih apa yang ingin dicapai. Semoga kita juga semua juga bisa begitu ya, dengan tetap punya mindset bahwa ya kalau kalah/gagal ya tidak apa, coba lagi dan seterusnya.
Lokasi foto: Princes Park, Melbourne.


Comments
Post a Comment