15. GARAM DAN GULA, SECUKUPNYA
Seorang remaja di Singapura, Zoe, jadi bahan pembicaraan di dunia maya, penyebabnya hanya karena dia membagikan video keriaan setelah mendapatkan hadiah tas Charles and Keith dari ayahnya. Hal ini kemudian digoreng oleh netizen dengan nada merendahkan dan membandingkan brand tersebut dengan yang kelasnya lebih tinggi.
Hal yang bikin saya mengambil posisi untuk empati ke Zoe adalah video klarifikasi yang dia buat. Intinya dia tidak menjual cerita sedih untuk menarik simpati, namun melawan dengan narasi yang masuk akal dan membuat saya kembali teringat pada masa kecil dulu.
Lahir dan besar dari keluarga yang sangat sederhana, ada banyak sekali kemewahan yang di luar jangkauan (dibayangkan saja bikin mundur seribu langkah), namun ada juga kemewahan kecil yang dirayakan dengan sepenuh hati. Kemewahan ini misalnya ketika orang tua saya memenuhi janji traktiran makan ayam goreng tepung, nonton di bioskop dan hal lain yang terjangkau oleh kondisi keuangan keluarga pada saat itu- yang tentunya harus didapatkan setelah berhasil mengerjakan dan meraih sebuah prestasi.
Saya dan kakak-kakak akhirnya lumayan terlatih untuk menghargai uang dan kemewahan yang mungkin tidak mahal. Tidak pernah malu ketika saat sekolah tidak menggunakan alat tulis dan sepatu atau baju yang mahal, sadar bahwa mungkin apa yang kami pakai tersebut mungkin sudah yan terbaik disiapkan orang tua. Tidak pernah juga kami silau untuk minder terhadap yang mampu, tapi tentunya akan menjauh dari mereka yang mampu tapi sifatnya menindas dan ber-ego tinggi.
Tapi bayangkan jika dunia yang sudah tidak terlalu jelas batas maya dan nyata ini, banyak sekali orang yang akhirnya seperti cenderung megalomania, selalu ingin dibandingkan dengan orang lain dan menang. Sepertinya uang dan kemewahan jadi akses cepat untuk mendapatkan pengakuan dari banyak orang. Kemudian bisa jadi akan banyak Zoe-zoe lain yang tidak mampu membela diri, dan menyerah untuk menenggelamkan diri pada kemewahan yang dia inginkan bagaimanapun apapun caranya.
Akhirnya, semua kontrol kembali pada diri masing-masing. Tidak ada yang bisa berdaya mengerem keinginan validasi tadi jika diri tak mau. Tinggal pilih saja mau cukup dengan yang ada sembari memperbaiki kehidupan, atau ingin lebih dari cukup namun kejar-kejaran tanpa lelah dengann ekspektasi diri dan orang lain. Atau mau main aman, berada di tengah-tengah saja, apa ada yang begitu?
Lokasi foto : Museum MACAN, Jakarta


Comments
Post a Comment