17. JALAN YANG JAUH JANGAN LUPA PULANG, DAN SENANG-SENANG.
Seusai menonton Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang semalam, hati ini tergelitik untuk menulis kenangan mendalam saat hidup di tempat asing lima tahun silam. Banyak sekali kisah inspiratif dan membanggakan tentang tips dan trik mendapatkan beasiswa yang beredar dan bisa diakses disana sini. Walau kalau dibaca2 lagi kayaknya jadi lebih ke personal branding penulisnya (ehem).
Belajar di tempat asing sebagai penerima beasiswa tentunya tidak selamanya indah. Prosesnya tentu berpeluh keringat, malam-malam jalan kaki menerjang winter karena ketinggalan kereta terakhir, menangis di toilet kampus karena nggak ngerti banyak hal dan tekanan akademik, dan kendala bahasa. Semuanya dijalani dengan penuh sambat tapi nikmat.
Satu sisi lain yang mungkin jarang dibicarakan, finansial. Living allowance yang diterima tentunya tidak banyak , bukannya tidak bersyukur - tapi memang terbatas, dan di bawah rate biaya hidup standar penduduk lokal. Mau tidak mau harus masak, karena kalau makan di luar terus bisa-bisa belum sebulan uang sudah habis. Mau spare uang untuk senang-senang bisa didapatkan darri bekerja paruh waktu (part-time).
Pekerjaan paruh waktu yang pernah saya ambil dulu antara lain: bebersih airbnb yang akhirnya mengajarkan saya bahwa memang ada beberapa ras yang hidupnya berantakan banget; jadi tukang masak di fish and chip yang meninggalkan bekas luka di tangan karena kecipratan minyak panas; bongkar pasang tenda jualan di pasar tradisional dari pagi buta hingga ketemu sore; nganter koran atau lembar flyer promosi dari rumah ke rumah, atau yang terakhir menjadi barista dan pramusaji - yang ini yang paling saya suka, karena walau melelahkan namun menyenangkan.
Dari pekerjaan sampingan inilah yang kemudian dipakai untuk mengisi tabungan, jalan-jalan ke negara bagian yang lain, beli kopi dan makanan enak setiap weekend.
Jauh dari rumah tentunya juga berat secara mental dan emosi, untungnya jika beruntung akan ketemu chosen family yang mampu menemani masa buruk, tapi juga ada untuk sekedar sharing wine/bir ketika senang. Wine/bir murah yang dibeli saat diskon, sudah murah diskon pula. Bersama chosen family ini kita bisa lepas bicara apa saja, diskusi masalah dengan pikiran dan perspektif baru tanpa terikat hitam atau putih, ada loh yang abu-abu.
Anehnya, hal-hal tidak enak dan enak yang sepaket ini bisa dinikmati dengan nyaman. Ketemu orang-orang random yang layaknya magnet, menarik dari kutub berlawanan membuat hidup menjadi baik. Atau mungkin membuat saya, seperti Aurora bilang - menemukan rumah. Sepulang ke rumah yang lain (balik ke Indonesia), rumah yang saya tinggalkan tetap menjadi tempat istimewa. Semua rumah istimewa, yang bukan lagi menjadi fisik dan geografis saja.
Jalan yang jauh jangan lupa pulang. Tapi kalau nggak mau pulang ya nggak apa-apa juga (syarat dan kondisi tertentu yang berlaku).
Lokasi foto: Bourke Street, Melbourne


Comments
Post a Comment