18. JEDA, TERNYATA HARUS DINIKMATI
Di penghujung februari kemarin, berbarengan dengan cuaca yang tidak menentu dan gempuran pekerjaan yang tak henti-henti, akhirnya badan saya menyerah dan tumbang. Mungkin tidak sedramatis tumbang serupa pohon yang jatuh, gedebug. Cuma ada semacam alarm yang menyuruh untuk berhenti sejenak.
Saya kebetulan termasuk yang jarang sakit besar dan mengharuskan dirawat di rumah sakit. Tapi lumayan sering demam, radang tenggorokan dan flu kalau sedang terlalu capek bekerja/berkegiatan. Mungkin ada yang bilang ya itu resiko workaholic, yang mana sering saya bantah karena sejatinya saya bekerja sewajarnya sampai selesai. Tapi sekali lagi, who am i to judge my self juga kan ya.
Weekend - sabtu dan minggu, saya habiskan dengan hanya tidur di kasur, makan tepat waktu dan minum obat langganan sehari-hari. Hingga senin datang tak kunjung membaik, sempat terpikir ‘apa COVID ya?’, tapi ternyata tidak.
Selasa terlalui dengan demam dan batuk yang masih awet.
Rabu, hari ini, saya masuk kantor lagi dalam keadaan yang lebih baik walau sebenarnya belum sepenuhnya sehat. Alhasil saya pulang cepat dari biasanya, dan istirahat lagi.
Pada istirahat kali ini saya coba amati, kenapa alarm tubuh kali ini bekerja secara berkepanjangan. Ya ternyata pada saat seharusnya saya jeda, jeda itu tidak saya nikmati dengan baik. Saya masih sempat cek-cek kerjaan, ikut zoom yang tadinya hanya menyimak tapi harus ikut berkomentar karena rekan kerja yang tidak bisa handle kerjaan, atau sesekali usil follow up mitra kerja.
Kalau sudah begini, kok ya berasa lebih cinta pada orang/hal lain daripada diri sendiri. Oleh karena itu saya berniat pada diri sendiri untuk punya jeda yang full untuk dinikmati weekend ini. Supaya bisa lebih sayang sama diri sendiri.
Lokasi foto: Labuan Bajo, NTT


Comments
Post a Comment