21. KOMITMEN DAN KELALAIAN, SELAMA LIMA BULAN
Pada awalnya, blog ini dibuat untuk melatih kemampuan menulis saya dalam rangka lanjutan study pada tahun ini. Target awal harus bisa setor satu tulisan dua hari sekali, sesuai dengan nama blog ini. Tetapi here we are, lima bulan setelah tulisan terakhir di bulan Maret, jauh dari komitmen awal. Saya mungkin tidak akan mencari alasan karena sadar bahwa memang lalai. Tapi mungkin saya akan kasih little life update selama lima bulan terakhir.
Berita lelayu, kepada yang berlalu
Tepat pada hari raya Idul Fitri 2023 kemarin, kakak ipar saya meninggal dunia setelah kurang lebih bergulat 8 bulan melawan kanker. Selain meninggalnya Eyang-eyang, serta nyaik (nenek dalam bahasa lampung), lelayu pertama kali yang datang dari lingkaran terdekat. Berpulangya beliau merupakan pukulan telak bagi kami. Prosesnya sangat naik turun, sesaat kami tercerahkan dengan adanya harapan, sedetik berlalu kami dikejutkan dengan semakin tipisnya masa depan. Hingga pada akhirnya harapan itu menipis dan kami harus bersiap yang terburuk
Dalam perjalanan pulang dari Jambi, tempat beliau dimakamkan, ke Jakarta pada lebaran hari ke 5, saya yang berkendara sendirian seolah flashback pada masa-masa terakhir. Juga teringat kembali pada hal baik-baiknya. Hingga 3.5 bulan berlalu, proses berduka itu masih ada dan kadangkala masih sukar dicerna. Namun selayaknya siklus hidup yang harus terus berjalan, kami sekeluarga terlatih dan harus menjadi kuat. Kedukaan ini pula-lah yang mengikat kami lebih dekat, yang membuat saya sadar kalau hanya keluarga yang benar-benar ada dalam segala suasana, menerima kita apa adanya (paling tidak dalam kasus saya).
Berpindah kamar, menata kembali ini itu
Juli lalu tepat setahun saya bertugas di Jakarta. Biasanya saya lumayan betah untuk tinggal di satu tempat berlama-lama, seperti dulu saat kos sarjana tinggal di tempat yang sama selama 5 tahun di Jogjakarta. Sayangnya setelah 6 bulan menetap di Bendungan Hilir, saya harus pindah ke Cipete Raya. Alasannya nggak perlu dijelasin tapi it was just for the best pokoknya.
Packing pindahan itu sebenarnya paling bikin malas. Barang-barang harus ditata ke dalam kotak dan tas, belum lagi menentukan barang mana yang harus ditinggal atau dilungsurkan ke orang-orang. Memakan waktu dan energi bersamaan. Menata posisi ini itu hingga nyaman dan bisa beraktivitas terutama perkara tidur. Cuma berpindah ini ternyata juga seperti reset ulang kebutuhan akan barang dan prioritas-prioritas keseharian, mana yang butuh dipertahankan bisa di-keep, mana yang ternyata sisa impulsif bisa direlakan untuk pergi.
Lingkungan baru ternyata juga cukup menyenangkan. Mau cari kopi enak tersedia berjarak 50 meter, warteg enak mudah ditemukan, akses ke MRT juga gampang. Hal-hal ini yang mungkin nggak akan saya ngerti kalau nggak pindah.
Ke negeri seberang, bicara iklim
Seperti durian runtuh dan petir siang bolong, 2 bulan lalu saya dapat penugasan untuk pergi ke Jerman. Saya tergabung sebagai satu dari 50-an orang lainnya sebagai delegasi Indonesia dalam Bonn Climate Change. Sebuah konvensi internasional yang membicarakan isu lingkungan, seperti iklim, energi terbarukan dan lain-lain. Hasil dari acara ini nanti yang akan dibawa ke COP 28 di Dubai November-Desember nanti.
Persiapan keberangkatan yang hanya sebulan, termasuk mencatat isu-isu dan posisi Indonesia dalam kertas kerja, tentunya membuat saya seperti kejar-kejaran dengan banyak hal. Belum lagi harus juga mengaitkan posisi kementerian tempat bekerja dalam inisiasi ini. Begitu sampai di Jerman, saya juga harus bisa dilepas sendiri untuk mengikuti sesi-sesi dan hands on mengikuti tema-tema baru yang kalau dulu hanya bisa dibaca di media saja. Perdebatan antara developing dan developed country yang sebenarnya mencoba mencari jalan keluar, agar solusi yang bisa didapat bisa saling menguntungkan.
Pengalaman ini membuat saya bisa mengerti bahwa di luar perintilan keseharian dalam pekerjaan, sekecil apapun itu, tempat kerja saya ternyata ada andil besar terhadap isu besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal yang mungkin nggak saya pahami kalau tidak ikut acara ini.
Berlari jauh buat apa? ya validasi
Setelah sebelumnya beberapa kali mencoba lari 5 dan 10 km, saya akhirnya memberanikan diri untuk turun di half marathon (+ 21.1 km). Awalnya karena cuma pingin mencoba sejauh mana stamina saya bisa mencerna jarak yang lebih jauh. Tetapi mendekati hari H, latihan mulai serius dan lumayan ambiusius untuk bisa mencapai cut out time (cot). Tidak muluk-muluk podium atau catatan waktu fantastis, yang penting bisa finish tanpa ada cedera bahaya.
Terdapat beberapa pemberhentian pada km 5, 10, 15 , dimana kita bisa minum atau makan kecil sebagai nutrisi selama berlari. Setelah mencapai stop ketiga (15km), saya mulai kehilangan semangat dan mempertanyakan sebenarnya saya ini ngapain sih lari berjam-jam, esensinya apa?. Akan tetapi hal-hal demotivasional tadi saya coba kikis pelan-pelan. Saya coba fokus untuk mencoba selesaikan saja apa yang sudah dimulai. Syukurnya memang bisa selesai dengan waktu 3 jam 23 menit, catatan waktu yang masih jauh dari bagus, tapi masih berkesempatan mendapatkan medali. Sepanjang perjalanan menuju kost, saya lumayan menangis merayakan satu capaian terakhir ini. Memang benar kadang-kadang yang membatasi diri adalah ketakutan yang juga timbul pada diri sendiri. Coba saja tadi menyerah di km 15, mungkin yang ada penyesalan sampai saat ini masih saya rasakan.
Kira-kira begitulah, hal-hal (selain lalai) yang membuat konsistensi menulis jadi terganggu. Setelah ini saya akan coba untuk kembali aktif menulis, bercerita tentang apa saja. Walau nggak yakin juga ada banyak yang baca.
Lokasi foto : Bonn, Jerman



Comments
Post a Comment