22. CLASH OF MEDIOCRE : RESILIENSI DAN SELUK BELUK PUTIH ABU-ABU

Dalam seminggu ini ada satu program edukasi di youtube yang jadi topik pembicaraan di whtasapp group keluarga kami, Clash of Champion. Premisnya adalah 50 orang mahasiswa perguruan tinggi lokal dan internasional pilihan, yang berkompetisi (sejauh ini) dalam kecerdasan numerik dan visual-spasial. Saya pribadi menyukai program ini, serta tak lupa menyemangati salah satu keponakan yang memang menyukai Matematika dan sedang tekun mengikuti Olimpiade Sains Nasional di bidang itu.

Tapi program ini secara tidak sengaja membuka kenangan lama masa SMA dulu.

Boleh dibilang, masa puncak kejayaan akademik saya adalah masa SMP, SMP yang menjadi salah satu yang terbaik di Kota Jambi. Saya sangat haus akan prestasi, semua lomba diikuti baik yang akademik maupun non-akademik. Lomba cerdas cermat dengan tema bervariasi, vokal grup/solo, debat Bahasa Inggris hingga Siswa Teladan. Semuanya bisa diseimbangkan, juara kelas hingga juara umum-pararel di kelas, dan di luar kelas saya masih bisa mingle dengan banyak teman, tanpa ada stereotyping kutu buku yang melekat.

Berdasarkan catatan prestasi itu, saya akhirnya mencoba daftar di SMA boarding (asrama) semi militer, yang kebetulan jadi salah satu yang terbaik di Jambi. Sekolah ini mendapat subsidi dari pemerintah daerah, sehingga dari buku pelajaran, biaya hidup, hampir dikatakan gratis. Paling agak sedikit mengeluarkan kocek untuk seragam yang lumayan beragam, lengkap termasuk seragam bela negara, yang dipakai untuk kegiatan ekstra kemiliteran di hari sabtu.



Sekolah ini punya catatan kelulusan alumni yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di Indonesia dengan persentase tinggi. Hal ini (selain biaya), adalah kausa utama kenapa banyak lulusan SMP dari penjuru Jambi rela mengikuti serangkaian tahapan ujian masuk. Dimulai dari seleksi administrasi (nilai raport dan rekomendasi sekolah), tes tertulis, fisik hingga pantukhir. Singkat cerita saya diterima.

Sebelum caturwulan I (ketahuan usianya) selesai, beberapa dari kami ditawarkan untuk ikut seleksi kelas Akselerasi. Kelas yang memotong masa belajar dari yang seharusnya tiga tahun menjadi dua tahun. Beberapa tes dilalui; tertulis, psikotes, wawancara. 22 orang terpilih untuk diterima menjadi angkatan pertama akselerasi tingkat SMA di provinsi Jambi saat itu. Hati saya pun merasa bangga, begitu juga orang tua. Betapa tidak, saat itu sampai masuk menjadi sorotan di koran lokal. Sayangnya euphoria ini ternyata tidak begitu lama bagi saya.

Sebagai ilustrasi, sebenarnya akselerasi ini tidak jauh berbeda dengan regular. Hanya saja karena keterbatasan waktu, akan ada banyak penyesuaian tentang materi mana yang harus dikeroyok dan diajarkan oleh guru, dan mana yang disarankan untuk dilakukan mandiri. Untungnya karena bertema asrama, kami tidak mengenal pekerjaan rumah (PR). Hal ini digantikan dengan latihan soal melalui modul-modul yang disediakan oleh pamong (guru-guru) pengampu mata pelajaran.

Fase inilah yang mulai menjadi masalah bagi saya. Melalui fase ini saya menyadari bahwa proses menyerap materi orang berbeda-beda. Ada yang kemampuan numerik-nya baik sekali, sehingga sungguh cakap mengerjakan soal hitungan. Ada yang kemampuan logis-nya dahsyat, sehingga dia menerima semua fakta tanpa perlu dihapal mati; serta kecerdasan lainnya.

Kenapa menjadi masalah? karena setelah menerima raport, saya harus menerima kenyataan berada di papan tengah klasemen. Nilai saya kurang begitu bagus, terutama pada rumpun eksakta, kecuali Biologi. Saya jadi frustasi karena biasanya jadi yang terbaik, tidak ada nilai di bawah 7, tapi sekarang keadaan berbalik. Kehilangan semangat dan merasa jauh tertinggal, padahal sepertinya sudah sama-sama berlari selama proses belajar, membuat saya menilai rendah diri sendiri.

Puncaknya adalah ketika ketika saya sempat peringkat dua dari bawah, dan saat kenaikan kelas harus kehilangan tiga orang karena tidak memenuhi standar nilai, dan harus kembali ke kelas reguler. Persaingan menjadi lumayan terasa, bagi 19 orang yang tersisa.

Tahun pertama berlalu, dua sesi belajar berikutnya kali pertama saya mendapat nilai 5 di mata pelajaran Fisika dan Matematika. Sudah hilanglah kesempatan untuk bisa menembus jalur undangan masuk PTN. Tapi di tengah keterpurukan itu, saya juga menyadari bahwa mungkin yang salah adalah saya sendiri. Bisa jadi terlalu keras terhadap diri sendiri. Saya jadi lupa rasanya menikmati proses belajar itu sendiri, dan fokus pada mengejar nilai. Mungkin saya terlalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Suatu masa seusai libur panjang selesai, saya mencoba untuk berubah. Untuk lebih mencintai dan menikmati proses belajar, lebih fokus pada diri sendiri, dan mencoba mencari kira-kira ‘kecerdasan’ apa yang saya miliki dan senangi. Bisa saja bukan di logis, numerik maupun spasial- yang menurut teman dekat saya, keunggulannya ada pada lingusitik, musikal dan interpersonal. Memang dulu saya lumayan jadi badut kelas, yang suka ngobrol dan tidur. Jadi setiap terima raport, alih-alih dapat pujian, malah selalu dapat surat cinta teguran karena terlalu sering ngobrol dan tidur di kelas.

Ajaibnya, masa kelas 3 SMA yang singkat itu dilewati tanpa beban. Nilai-nilai mulai membaik. Hidup menjadi lebih enteng, saya jadi nggak suka mikir ada yang ‘kurang’ dalam diri sendiri. Saya juga mulai menyadari bahwa analoginya, masa-masa akselerasi adalah seperti masuk ke dalam kolam kecil berisi ikan-ikan besar. Saya harus bertahan supaya tidak keluar dari kolam itu, whatever it takes.

Secara tidak langsung, saya dibenturkan dengan teori resiliensi, yaitu kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat atau masalah yang terjadi dalam kehidupan secara pribadi. Memang betul-betul sendiri, karena bahkan mencontek atau bikin bahan contekan pun tidak pernah terpikir dalam otak kami semua. Walau sebenarnya masalah masa SMA pada akhirnya nggak ada secuil kelingking dari masalah pada tingkatan usia selanjutnya.

Tibalah saat-saat menuju kelulusan.

Orang tua yang biasanya diberikan kesempatan untuk memberikan kata sambutan saat perpisahan biasanya adalah dari siswa yang berprestasi, baik akademik maupun non akademik. Entah kenapa, saat itu orang tua (papa) saya yang dipilih. Tanpa saya tahu kenapa pada saat itu, tapi lately saya dapat bocoran bahwa karena baik saya dan Papa dianggap punya ‘kepribadian’ yang menarik, sehingga bisa berpotensi akan bisa kasih speech yang tidak membosankan. Rupanya ada tipe ‘kecerdasan’ lain yang dihargai.

Pada akhirnya, 19 orang diantara kami memang rata-rata bisa masuk PTN terbaik, ITB, UGM, UNDIP, UNSRI, UNAND serta beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik , seperti Telkom Uni (dulu STT Telkom),Trisakti, Binus. Beberapa peserta Clash of Champions berasal dari PT di atas, de javu. Semua dari kami, baik dari papan atas, tengah maupun bawah, semuanya menjalankan kehidupan sehari-hari dengan baik, ada yang sudah jadi petinggi di Perusahaan migas, jalan tol, dokter spesialis juga ibu rumah tangga- tidak ada lagi profesi yang lebih baik dari profesi lainnya. Saat berinteraksi di whatsapp group, yang terjadi adalah gurauan ringan atau cerita nostalgia masa lalu.

Saya sangat berterima kasih sudah diajarkan tentang resiliensi, langsung dari fase-fase yang dilalui pada masa SMA. Rupanya hal ini yang menjadi fondasi yang digunakan saat melanjutkan study sarjana, master dan dunia kerja. Bahwa memang sebaiknya harus menikmati seluruh prosesnya, fokus pada diri sendiri, enjoy the ride katanya.

Pesan enjoy the ride inilah, yang selalu diselipkan untuk keponakan saya sebelum dia berkompetisi. Supaya tidak gagap dan gloomy seperti oom-nya dulu.

Comments

Popular Posts