23. HASIL PANEN DARI 2024


Sebutan bahwa 'time is priceless and precious- at the same time', sepertinya benar. Tadinya saya ingin sedikit menulis hal-hal yang saya pelajari dari 2024 pada minggu pertama 2025. Lalu tanpa terasa, dua - tiga- empat minggu berlalu, dan tulisan ini baru dapat saya selesaikan sekarang.


Saya berhenti untuk menulis resolusi tahun baru sekitar 10 tahun yang lalu. Alasannya alih-alih bisa menyemangati, malah  justru membebani dan bikin saya nggak nyaman, karena mendekati akhir tahun, ada banyak sekali resolusi yang tidak terpenuhi. Dari itu, saya coba ganti menjadi menulis hal-hal yang dipelajari dari setahun terakhir. Hal ini justru lebih bikin nyaman, bisa jadi belajar dari keberhasilan dan kegagalan dalam satu tahun. Dua hal tadi (berhasil dan gagal) diterima jadi satu paket yang tidak dijual terpisah.




Jadi apa saja yang saya pelajari dari 2024


(1). Menjadi perfect adalah utopia.


2024 adalah tahun yang baik bagi karir saya.  Singkat cerita, saya mendapatkan promosi untuk menduduki sebuah posisi yang lebih baik. Pada awalnya hal ini saya rayakan secara singkat. Selanjutnya beban pekerjaan serta tanggung jawab pastinya bertambah. Ada team yang lebih besar yang harus di-manage. Ada anggapan bahwa seluruh pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna. Saya jadi people pleaser akut.


Sebenarnya sebelum promosi ini, saya juga lumayan keras dalam mengerjakan sesuatu. Sekiranya ada hal yang belum sesuai, saya akan coba bertahan lebih malam untuk mengerjakan agar jadi lebih 'sempurna'. Adanya promosi tentunya membuat kegilaan akan kesempurnaan menjadi bertambah. Ada kecenderungan micro managing dan hal ini tentunya memperburuk teamwork.


Sampai pada suatu titik, saya merasa bahwa ketika ada revisi artinya ada kesalahan yang tidak terelakkan. Hal ini cenderung membuat saya  merasa tidak berkompeten dalam menyelesaikan sesuatu.


Fenomena ini saya coba kikis dan sadari secara penuh untuk diubah - tanpa memperkecil kualitas dan profesionalitas. Saya menyadari bahwa kekhawatiran untuk jadi perfect ini membuat fokus dan attention-span menjadi berkurang. Bukankah berbuat terbaik dan the acceptance of imperfection itu adalah hal yang harus lebih diterima satu paket.


Perfection itu adalah ilusi, utopis, dan tidak menghargai proses. Justru dengan banyaknya bolong dan ketidaksempurnaan, ada banyak journey of  growth dan self-improvement yang bisa didapatkan. Daripada berambisi jadi sempurna, saya akhirnya berorientasi untuk kasih yang terbaik saja, selesai.


(2). Pelan-pelan, one at a time


Hidup di Jakarta dengan segala fast-paced dan keterburu-buruan-nya, kita diminta untuk bisa bertarung sengit dengan waktu. Tak jarang seolah kalau tidak bisa multitasking, artinya lemah. Lima hari kerja tidak jarang berlalu sekejap dan sekelebat mata. Pagi ketemu malam, malam ketemu pagi. Hari libur pun dipakai untuk kesana-kemari, juga terjadi sekelebat mata.


Suatu minggu pagi, saya merasa malas untuk kemana-mana. Rasanya ada tiga janji yang terpaksa saya batalkan, dengan alasan tidak enak badan - padahal pingin rebahan dan diam di kamar sambil Go-Food saja. Setengah hari itu saya habiskan dengan sarapan, beberes kamar, decluttering barang-barang di lemari, membersihkan toilet, menyelesaikan laundry baju berwarna putih dan lunch seluruhnya dilakukan in sequence. 


Pada saat melakukan rangkaian kegiatan tadi, saya tidak melakukan sesuatu sambil melakukan sesuatu yang lain. Pun tidak makan sambil nonton youtube. Handphone dan gadget saya taruh dalam posisi diisi daya-nya. Semua dilakukan dengan nyaman, pelan-pelan, sadar penuh hadir dan utuh (mindfulness).


Ternyata ada kenikmatan tersendiri yang sudah lama tidak saya rasakan. Selesai satu kegiatan, lanjut ke kegiatan lain, hingga selesai dengan baik dan tidak diburu waktu - walau kaget juga tiba-tiba sudah sore.


Pelan-pelan, satu-satu dan tidak gradak-gruduk dalam melakukan apapun rupanya sangat menyenangkan, dan pelan-pelan saya aplikasikan dalam keseharian. Rupanya tidak multitasking, tidak tegangan tinggi dan selalu sat-set itu bikin saya lebih tenang. Cara meraih ketenangan ini yang harus terus dilatih di tahun 2025 ini.


(3). Zona middle ground, adalah nyaman


Dahulu saya mengira dengan menjadi yang 'terbaik' akan dapat hasil yang 'terbaik'. Tabur tuai ya tabur tuai. Ternyata cara kerja tabur tuai itu tidak segampang itu. Kalau benar-benar harfiah mengartikannya, takut seolah semua kejadian yang terjadi ada embel-embel pamrih.


Ekspektasi kadang harus dijaga agar tidak kecewa, baik itu dalam hubungan dengan keluarga, pekerjaan, pertemanan atau percintaan. Ada keseimbangan antara pleasure dan enjoyment dengan meaning dan purpose of life. Ada terima kasih atas apa saja yang sudah berhasil didapatkan. Ada konektivitas berharga yang harus dipupuk dalam pertemuan yang berkualitas. Hal-hal ini yang kayaknya saya temukan dalam konsep middle ground.


Konsep ini sebenarnya saya dapatkan saat mengikuti kelas Mitigasi Risiko, terutama prinsip Negosiasi. Intinya adalah menemukan titik tengah atas dua hal yang bertolak belakang, untuk kemudian dikompromikan agar tidak terpolarisasi. Saya merasa ada banyak sekali hal-hal yang kita sukai bersamaan hadir dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Kompleksitas ini jika bisa dilatih untuk berdampingan (kalau versi saya: tetap pakai ngomel-ngomel), akan membuat saya jadi nyaman.


Nyaman ini tentunya berbeda dari zona nyaman. Nyaman yang didapatkan membuat saya lebih bisa resiliens dalam menerima guncangan. Tahu bahwa ada skenario-skenario yang bisa dikontrol, tapi juga legowo menerima hal-hal yang tidak bisa dikontrol.


(4). Money, as a Means to an End


Berbicara soal uang memang nggak ada habisnya. Ada berbagai seminar financial literacy yang laris manis diminati. Ada fenomena pinjol yang katanya 40% kredit macetnya berasal dari generasi Z. Ada juga tekanan sosial media tentang bagaimana Key Opinion Leader/Influencer memberikan gambaran hidup 'ideal' yang sayangnya mungkin ditelan mentah-mentah oleh beberapa orang. Pada lingkungan terdekat pun, tak jarang saya terpapar dengan orang-orang yang betul 100% mengasosiasikan dirinya dan aglomerasi individu dari status keuangannya.


Tidak ada yang salah dari itu. Again, who am i to judge?


Pada pertemuan rutin saya dengan circle pertemanan yang erat, kami melihat uang ini sebagai hal yang unik. Tentu kami masi berkhayal untuk bangun besok pagi dapat uang 8 M. Tentu kami juga masih ngeluh, gila ya kerja sudah capek banget kaki di kepala, kepala di kaki tapi masih gini-gini aja.


Akan tetapi, humor (yang kami juga nggak keberatan jadi nyata) ini, diikuti dengan serentetan rencana kira-kira kalau benar dikasih rezeki berlebih, uangnya mau dipakai buat apa. Ternyata sungguh sangat simple, bayar cicilan, renovasi rumah, biaya pendidikan anak, hadiah buat sendiri - dan semua kategori yang sebenarnya untuk memenuhi tujuan pribadi dan untuk mendanai kebahagiaan (happiness,- in a good way).


Saya senang sekali, ternyata kami se-frekuensi. Bahwa uang tadi dipakai untuk hal yang sekiranya perlu sesuai prioritas. Uang tadi tidak mendefinisikan orang secara brutal, karena sulit lepas dari jebakan itu ketika terlanjur jatuh.


(5). Spot personal untuk 2nd gen K-POP


2024 adalah tahun produktif saya dalam berlari. Sebenarnya saya mulai lari jarak dekat, lalu 5 K, lalu 10 K dan seterusnya sejak 2015. Tapi karena on/off,  dan kebanyakan off, lari jadi sering dilakukan berujung pace mulai kacau. Tahun 2024 saya diingatkan kembali tentang nikmatnya berlari, hingga ada 2 event Half Marathon dan 1 event 14 K yang diikuti, di luar 5 K dan 10 K lainnya. 


Pada event di atas 10 K, ada kalanya saya menanyakan motivasi 'kenapa sih mau aja lari berkilo-kilo dan berbayar pula? apa demi medali?', dan pertanyaan why lainnya. Tapi begitu mencapai finish, akhirnya semua kegelisahan dan capeknya terbayar. Melalui proses berjam-jam tadi sebenarnya adalah proses mengenal diri sendiri, mencoba mendobrak batasan-batasan, dan melatih kekuasaan fisik dan mental. Jujur saja, kalau untuk kompetisi sih belum ada motivasi untuk itu, lah wong lari saja masih pace keong.


Dalam proses tadi, 3/4 ruang waktunya secara tidak sengaja ditemani oleh playlist di Spotify yang disiapkan sebelum hari H. Baik itu playlist pribadi maupun playlist orang yang saya simpan. Playlist tadi sebagian besar terisi oleh lagu K-Pop generasi kedua. 


Lucunya  saat saya lumayan hampir menyerah, ada energi yang muncul dan menyemangati untuk terus hingga finish. Dalam lagu yang punya beat heboh dan heart pumping tadi, ada selipan kenangan masa muda saat kuliah yang muncul. Masa dimana kayaknya energi tidak ada habisnya, bisa senang walau uang pas-pasan, bisa kreatif walau dengan modal yang minim. Ini yang mungkin jadi titik ungkit untuk bangkit. Karenanya, saya selalu punya spot spesial untuk genre itu tadi. Spot ini juga yang saya sadari dan terima dengan sepenuh hati ketika menonton konser comeback 2ne1 akhir November 2024. Kenangan-kenangan tadi muncul lagi, menjadi kuat dan punya intensitas emosional yang tinggi bagi diri pribadi.



Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang mungkin terlewat dan bisa dijadikan lesson learned dari tahun 2024 bagi saya. Namun  lima ini cukup mewakili.  Semoga tahun ini kita tetap jadi kuat, sehat, bahagia dan sejahtera. After all, that's all we only need.

Comments

Popular Posts