25. TUAIAN DARI 2025.
Rencana awalnya sederhana, yaitu menulis hal-hal yang dirasakan selama tiga bulan pertama di Jogja sejak Agustus 2025. Lalu, seperti banyak niat baik lainnya, saya terseret arus. Tiga bulan berubah jadi satu semester, 2025 pelan-pelan berganti menjadi 2026.
Selamat tahun baru, teman-teman.
Daripada menyesali keterlambatan, lebih enak kalau energi yang tersisa dipakai untuk merapikan apa yang bisa dituai dari 2025. Tahun yang cukup berat, dan kemungkinan besar bukan hanya bagi saya.
Dilihat dari jauh, 2025 memang tidak tampak seperti tahun yang bersahabat. Di panggung dunia, Trump dan perang dagang muncul sebagai babak baru persaingan dengan China. Di panggung lain, konflik Israel–Palestina terus berputar, serta hal buruk lainnya. Dalam negeri, isu politik rutin mampir dan suka tidak suka pasti membuat kita lumayan gelisah dan tersulut emosi. Sementara bencana alam menutup tahun dengan cara yang tidak kita minta. Di luar semua itu, ada satu kata yang seperti menggantung di pintu masuk 2026, ketidakpastian.
Kalau kembali membuka catatan awal tahun lalu, 2024 tampak seperti tahun yang nge-gas melulu. 24 jam terasa seperti kilatan petir. Akhir pekan hanya jadi jeda antara balas dendam tidur panjang dan kopi singkat dengan teman-teman dekat. Minggu malam pelan-pelan jadi jam resmi cemas, memikirkan kejutan apa yang menunggu di hari Senin. Siklus itu berputar rapi sepanjang 2024 dan masih terasa sampai awal 2025.
Di tengah ritme seperti itu, satu janji lama akhirnya terlaksana, sekolah lagi.
Rencana kembali kuliah, kali ini doktoral, sebenarnya sudah ada dari sekitar 2023 atau 2024, sesuai dengan lini masa beasiswa yang dengan baik hati saya terima (terima kasih LPDP). Tapi hari-hari kerja yang padat, dan keasyikan merasa “dibutuhkan”, membuat rencana itu pelan-pelan bergeser dari prioritas utama ke prioritas sekian.
Sampai akhirnya, setelah banyak percakapan dengan keluarga, mentor, dan teman-teman, keputusannya diambil juga, kembali kuliah di Yogyakarta. Kota yang pernah menjadi rumah selama hampir 10 tahun , dan rupanya akan jadi rumah untuk 3 tahun ke depan
Kali ini, kembali ke kampus di usia 30-an membawa rasa yang lain. Ini bukan lagi fase “coba-coba dulu, nanti lihat ke mana angin bertiup”. Di usia ketika banyak orang sibuk menetapkan atau mengokohkan pilihan karier, memilih kembali menjadi mahasiswa terlihat seperti langkah yang agak kurang wajar.
Menemukan kembali yang sempat hilang, melalui belajar.
Tujuh tahun setelah menyelesaikan master, ide kembali kuliah terdengar menggiurkan, sampai harus dihadapkan tumpukan jurnal mulai memenuhi memori laptop dan meja. Dua bulan pertama diisi dengan membaca artikel, laporan kebijakan, dan berbagai bahan yang mungkin bisa memberi penguatan bagi rencana disertasi. Di atas kertas, mencari topik “baru” terdengar intelektual. Tapi pada kenyattaanya, kadang lebih mirip sesi interogasi tanpa batas, apa bedanya dengan yang sudah ada?, apakah ini cukup layak dipertahankan?, atau hanya ambisi yang dipoles rapi.
Berbeda dengan dunia kerja, kali ini tidak ada tim yang bisa dimintai tolong mencari data, tidak ada rekan kerja yang siap diajak brainstorming sampai larut, dan tidak ada konsultan yang bisa membantu menavigasi kekacauan menjadi solusi. Hanya ada diri sendiri, laptop, dan perpustakaan. Sisanya, doa dan kafein (yang banyak).
Rasa sendirian itu nyata. Ada hari-hari ketika yang terdengar di kepala hanya pertanyaan, masih sanggup, masih pantas, masih waras. Ada malam ketika pertanyaan paling sederhana terasa paling berat, mengapa meninggalkan pekerjaan yang nyaman?, kalau akhirnya hanya berteman dengan rasa pusing dan keraguan.
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sulit dibantah, keputusan ini lahir tanpa paksaan dan keputusan pribadi. Keputusan pribadi yang gampang diambil sekaligus agak sulit ketika dijalani. Sulit, karena jalan keluar “ya sudah, berhenti saja” selalu ada di sudut pikiran.
Pelan-pelan, lewat obrolan dengan teman-teman yang juga sedang berada di fase study serupa, muncul satu kesadaran, mungkin ini memang bukan hanya soal gelar. Mungkin ini tentang diajak duduk berhadapan dengan diri sendiri, tanpa atribut jabatan dan kartu nama. Keuletan yang dulu bisa bersembunyi di balik kerja tim diminta untuk lahir kembali. Ego, yang dulu bisa berlindung di balik kata “kami”, sekarang harus belajar menerima bahwa kalau ada yang meleset, “saya” yang harus mengakui.
Di sela semua itu, ada momen ketika kekacauan ini bisa ditertawakan. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena cara saya melihat masalah menjadi berubah. Konon, bisa tertawa atas penderitaan sendiri adalah salah satu tanda bahwa kita tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh masalah itu, lebih matang secara emosional dan psikologis.
Jalan aman yang ditinggalkan, jalan baru yang penuh ketidakpastian
Kuliah di usia 30-an otomatis datang dengan pertimbangan finansial. Beasiswa yang ada sangat cukup untuk menjaga hidup tetap layak, kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan lainnya Tapi tentunya ada pos-pos yang harus disesuaikan ketika beranjak dari status “pekerja penuh waktu” digantikan status “mahasiswa penuh waktu”.
Jogja memainkan perannya dengan baik. Biaya hidup yang lebih ramah membuat banyak hal terasa mungkin. Tetapi Jogja juga penuh godaan duniawi, kafe, ruang seni, makanan, dan hal-hal menyenangkan lain yang dengan mudah membuat “sekali-sekali” berubah menjadi “kok sering ya”.
Banyak tulisan tentang mereka yang kembali kuliah di usia dewasa menyebut alasan besar, yaitu investasi masa depan, upaya tetap relevan, cara bertahan di tengah dunia kerja yang berubah cepat. Narasi yang rapi dan meyakinkan. Untuk saya, yang tahu akan kembali ke kantor yang sama setelah lulus, narasi itu terasa sedikit longgar. Di mata garis karier yang lurus, langkah ini mungkin terlihat sebagai belokan yang terlambat diambil.
Tapi ada cara lain melihatnya, sebagai jeda.
Bukan jeda yang berhenti total, melainkan jeda yang dipakai untuk mengecek ulang arah. Dulu, saat mengambil master, jeda karier mungkin diambil dengan kacamata yang lebih naif. Sekarang, jeda ini terasa lebih seperti kesempatan untuk menata ulang hubungan dengan pekerjaan, bertanya lagi mengapa melakukan apa yang dilakukan, dan seperti apa ingin bekerja beberapa tahun ke depan.
Di luar itu semua, mungkin saya sedang diingatkan pada hal yang sebenarnya sederhana, ketidakpastian sejatinya keniscayaan, karena memang hidup terus bergerak, bisa tiba-tiba berubah arah tanpa diprediksi.
Menyapa lagi hal-hal yang dulu ditinggalkan.
Sekolah memang mengambil porsi besar di 2025, tetapi bukan satu-satunya alur utama. Di sela kuliah dan bacaan, ada bab lain yang pelan-pelan ikut tumbuh, ikut kembali bergerak, kembali bermain, dan belajar hidup dengan ritme yang lebih pelan.
Di awal 2025, saya memutuskan untuk berlangganan sesuatu yang sering jadi korban resolusi tahun baru, investasi pada gym. Lengkap dengan personal trainer (PT), sebagai bentuk pengakuan jujur bahwa tanpa PT yang menunggu di lokasi, kemungkinan besar saya akan memilih pulang dan tidur. Setelah pindah ke Jogja, investasi ini juga dibawa.
Perlahan, sesi latihan yang awalnya dijalani karena “sayang sudah bayar” berubah menjadi rutinitas yang ditunggu. Tubuh protes, tapi dengan cara yang cukup menyenangkan. Sesekali lari satu atau dua kali seminggu ikut dimasukkan ke jadwal. Capek, tentu. Tapi tubuh terasa lebih ringan, dan tidur yang dulu sering terselip di antara lembur mulai kembali pada jamnya, dan lebih berkualitas.
Selain itu, soal hobi saya terhadap LEGO juga kembali ditekuni. Banyak set LEGO dan brick lain yang lama terlupakan untuk dirakit. Saat berkemas untuk pindah dari Jakarta ke Jogja, saya menemukan belasan set yang masih utuh di dalam kotak berdebu. Jeda kuliah memberi ruang untuk mulai merakitnya pelan-pelan. Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat kepingan kecil yang tampak acak akhirnya bertemu di satu titik dan membentuk sesuatu yang utuh. Tanpa disadari, ini juga latihan hadir sepenuhnya di satu aktivitas, mindfulness.
Jogja, juga seolah mendukung sesi mindfulness itu sendiri. Dengan ritmenya yang enggan terburu-buru, Jogja menjadi latar yang pas untuk melakukan banyak hal dengan nyaman dan perlahan tapi pasti, slow living. Di sini, slow living tidak hadir sebagai tren media sosial, tapi sebagai keseharian. Bekerja tanpa harus selalu lari, duduk tanpa merasa bersalah, dan menghabiskan sore hanya dengan melihat orang lalu-lalang sambil melamun. Slow living ternyata menyenangkan .
2026 dan Kuda Api yang berlari
Secara astrologi, 2026 disebut sebagai tahun Kuda Api. Karakteristiknya, tahun ini dipenuhi energi yang cepat, berani, sedikit dramatis. Setelah 2025 yang terasa seperti latihan melambat dan merapikan, Kuda Api 2026 terdengar seperti undangan untuk ikut balapan lagi. Tapi mungkin, pelajarannya justru ada di sebaliknya.
Mungkin 2026 bukan tentang siapa yang paling cepat tiba, tetapi tentang siapa yang masih utuh saat sampai ke tujuan. Alih-alih membebani, semoga tahun ini jadi momen tetap bergerak, tapi dengan pace yang membuat kita sempat melambat, bersyukur, dan bercanda. Tetap penuh dan utuh serta produktif. Semoga disertasi dan perkuliahan tahun kedua ini tidak membuat saya kembali mempertanyakan banyak hal yang tidak penting tadi.
Cheers.



Comments
Post a Comment