27. RIBUT-RIBUT LPDP: INTEGRITAS, PRIVILESE DAN POLITIK SEPOTONG KUE.

Saat itu usia saya 6 tahun, dan suatu siang kakak pertama saya menangis sepulang menyelesaikan ujian akhir (EBTANAS) Sekolah Dasar (SD). Dia kesal karena betapa mudah kunci jawaban beredar dengan leluasa ke seluruh kelas- tentu dia menolak keras. Merasa dicurangi oleh keadaan yang ada di luar kendali.


Bapak dan Ibu saya saat itu mencoba menenangkan. Mereka tak pernah marah dengan yang terlibat, baik sisi sekolah maupun bisa kita bilang kecurangan yang sudah sistemik, hanya berusaha meyakinkan sebaik-baiknya hasil adalah yang diusahakan sendiri. Dan benar saja, kakak pertama saya tetap mendapat peringkat satu umum pararel di hari pengumuman hasil EBTANAS.


Setahun kemudian, kakak kedua saya pun mengalami hal yang sama. Saya pribadi sebenarnya marah, seolah kok ada pembiaran sehingga keadaan ini bergulir lancar dan berulang tanpa kita bisa apa-apa.


Hingga akhirnya 6 tahun kemudian, hal serupa terjadi dengan saya. Tentunya saya menolak dan memilih mengerjakan semua sendiri. Ya walau hasilnya nggak sebagus kakak-kakak saya yang lain, orang tua tetap bangga, dan saat pengumuman hasil, ternyata saya masuk 10 besar satu angkatan.


Mungkin butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk mengerti, bahwa little did i know, mereka mengajarkan sekaligus memberi contoh pada saya dengan pelajaran bernama Integritas. Melakukan hal-hal yang menurut saya benar tanpa orang lain melihat.


Pelajaran yang pelan-pelan membersamai saya dengan jatuh dan bangunnya, terus di-upgrade dan pasti dibenturkan dengan banyak hal- hingga saat ini.


The world seems unfehh (unfair- maksudnya).


Itulah kata-kata legendaris yang digaungkan oleh oknum awardee LPDP beberapa waktu yang lalu. Bikin heboh satu negeri, dan membuka banyak diskursus yang tak kunjung henti hingga sekarang. Hal ini yang kemudian juga membuat saya berpikir dan berkaca dengan diri sendiri. 


Ilustrasinya begini. Saat pendidikan S1 dulu di UGM, saya mendapatkan beasiswa parsial  pada beberapa semester dari Pemerintah Provinsi Jambi. Parsial karena untuk biaya hidup bulanan masih dikirim oleh orang tua. Saat melanjutkan master (S2) di negeri kangguru, saya mendapatkan beasiswa dari Bappenas bekerja sama dengan Bank Dunia. Saat ini, saya mendapatkan beasiswa S3 di UGM dari LPDP - yang sekarang kontroversial itu.


Kalau ditanya kontribusi, wah saya agak bingung untuk mendeskripsikannya.


Tapi kurang lebih begini, setelah sarjana saya kembali ke Jambi dan bekerja melayani provinsi ini sampai 2015. Ketika selesai di 2017, saya juga kembali  mengabdi di Jambi selama 5 tahun hingga 2022 (pada empat kabupaten). Barulah saya kembali ke Pusat hingga 2025, kemudian tugas belajar S3. Sebisa mungkin, saat kembali dan dimanapun mengabdi, seluruh kerja keras dan keringat saya curahkan untuk membalas kembali ke komunitas/banyak orang, agar tak cuma berhenti di diri sendiri.


Saya melihat beasiswa-beasiswa ini adalah sebutir buah manis dari kerja keras, integritas dan tak lupa doa orang tua. Namun sejujurnya, selain ilmu, hal yang paling berbekas dari proses ini adalah privilese yang didapat. Privilese disini adalah kesempatan-kesempatan besar yang didapat, lebih besar dari orang lain.


Privilese seperti berjejaring/networking dengan banyak orang, sebuah modal sosial yang tak ternilai. Ada juga kesempatan-kesempatan berskala global, cultural exposure dan melihat dunia dengan cara yang berbeda tanpa merubah akar budaya yang diyakini. Satu lagi yang utama, kematangan dan pendewasaan pribadi; baik dalam ketahanan mengatasi masalah, manajemen waktu dan ekspektasi dan pengambilan keputusan.


Kemudian, privilese ini adalah bukan simbol keberhasilan pribadi semata,  dia harus muncul sebagai sesuatu yang harusnya dibagikan. Alih-alih menjadi pribadi yang 'aku-aku-aku', privilese ini sewajarnya disebarkan dalam bentuk berbagi pengetahuan, membuka jaringan dan kesempatan, memberi  akses dan bimbingan kepada generasi berikutnya (tanpa berbayar ya), serta menghadirkan integritas dalam pekerjaan. Dengan demikian, privilese menjadi manfaat bersama, bukan sekadar keberhasilan pribadi yang dinikmati sendiri.


Karena sejujurnya, walau mungkin didapatkan secara merit, ada banyak juga hak-hak orang lain yang tidak punya privilese yang sama dengan penerima.


Saya pribadi juga melihat privilese ini sebagai cermin kontrol. Untuk sekali lagi tidak fokus pada diri sendiri, karena takut kemudian terlalu reaktif menilai lebih diri sendiri, kemudian semakin kurang dalam berbagi. Bagaimana meng-implementasikannya? Itu bisa jadi bab tersendiri.


Sekarang bicara soal berbagi.


Dulu sekali, saya pernah membaca sebuah metafora soal Politik Sepotong Kue, dalam sebuah buku klasik Politics: Who Gets What, When, How oleh Harold D. Lasswell (1936), yang sudah disadur beberapa kali.  Dalam banyak obrolan tentang kekuasaan, politik sering dianalogikan seperti urusan membagi kue. Persoalannya bukan hanya bagaimana membuat kue itu lebih besar, tetapi siapa yang mendapat potongan, seberapa besar, dan kapan. Anggaran publik, jabatan, hingga kesempatan pendidikan sering kali menjadi “kue” yang diperebutkan. Selalu ada pertanyaan tentang siapa yang mendapat bagian. Lasswell pernah merumuskannya secara sederhana: politik adalah soal siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. 


Di titik ini, integritas menjadi penting. Tanpanya, pembagian kue mudah berubah menjadi sekadar perebutan akses oleh mereka yang paling dekat dengan meja kekuasaan.


Kalau mau dikaitkan dengan ribut-ribut LPDP ini, saya datang dengan pemikiran. Integritas adalah tentang bagaimana privilese-privilese yang digunakan ini  digunakan, tidak disalahgunakan atau sekadar menjadi simbol keberhasilan pribadi. Sementara itu, harus dipastikan bahwa berbagi manfaat dari privilese tersebut tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mengalir menjadi pengetahuan, kesempatan, dan kontribusi yang dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. 


Kontroversi seperti yang ramai dibicarakan dalam kasus LPDP ini mengingatkan kita bahwa publik tidak hanya menilai prestasi, tetapi juga cara seseorang memaknai kesempatan yang diterimanya. Karena setiap potongan kue dari sumber daya publik selalu membawa pertanyaan yang sama: apakah ia dinikmati sendiri, atau dikembalikan menjadi manfaat bersama.


Selamat berpuasa ya teman-teman.


Comments

Popular Posts