28. CUCI BAJU BUAT LEBARAN


Bagaimana lebaran kalian teman-teman. Seperti dua tahun sebelumnya, keluarga inti memilih untuk menjadikan moment ini untuk kumpul secara lengkap. Setelah Lampung dan Bandung (dan sekitar), tahun ini dipilihlah Jogja. Alasan utamanya apalagi kalau bukan sekalian mengunjungi saya yang sedang jadi pelajar.


Selayaknya lebaran pada umumnya, tentu kami sholat Ied dilanjutkan sungkem dan bermaaafan secara bergantian. Bedanya tidak ada kuliner khas lebaran seperti ketupat, opor dan sambal goreng hati. Kami memilih untuk makan gudeg dan panganan lain. Kuiner khas lebaran biasanya didapat ketika berkunjung ke keluarga  atau sanak saudara.


Bagi saya pribadi, menjalani lebaran setelah beranjak dewasa bukan lagi keriaan dan rutinitas yang grande, seperti saat kecil dulu. Tetap dinantikan tapi dengan suasana yang berbeda. Tentu saja ada rasa lega telah melalui bulan Ramadhan satu bulan penuh, juga lega karena akhirnya bisa ngopi di pagi hari lagi. Ada yang juga begitu?

Oke, saya coba lebih serius deh. Hehe

Memaafkan termasuk diri sendiri


Lebaran memang khas dengan saling memaafkan, mulai dari nol. Permintaan saling memaafkan ini biasanya sudah mulai terdengar berisik dari satu/dua hari sebelum lebaran, melalui sosial media, alat komunikasi maupun kirim-kirim parsel. Cara berkomunikasi pun beragam, ada yang dengan satu template untuk semua, dan ada yang terasa lebih personal.


Tentunya dalam setahun pasti ada saja yang bikin hati mangkel. Mungkin ada permasalahan yang belum selesai, maaf yang belum dilepaskan ke si pembuat salah. Kadang si biang onar ini malah tidak minta maaf sampai lebaran tiba, bikin mangkel. Atau secara mengagetkan, orang yang minta maaf adalah sosok yang setahun terakhir saja ketemu tidak pernah, bikin bingung.


Tapi semenjak menapaki perjalanan dewasa ini, saya biasanya juga menyiapkan diri untuk maaf-memaafkan dengan diri sendiri. Kadang mungkin terlalu keras sehingga memaksa tubuh sakit. Kadang terlalu berfikir berlebihan, overthinking sehingga  bikin tidur tidak lelap berujung pada bad mood seharian.


Atau juga kadang saya yang mengkhianati intuisi dan akal sehat. Beberapa keputusan yang diambil menjadi premature dan kelewat gegabah/cerboh, sehingga menyakiti diri sendiri. Padahal mungkin di alam bawah sadar, bagian diri ini sudah mengingatkan untuk hati-hati.


Pada momen memaafkan diri sendiri ini, saya kemudian belajar untuk lebih menyayangi diri sepenuh hati. Biasanya kalau sudah begitu, akan lebih bisa berpikir sehat untuk bisa memaafkan aspek lain. Memaafkan orang lain, memaafkan keadaan yang kadang tidak ideal atau realitas-realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Melupakan, atau pura-pura menerima.

Memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Kalau memaafkan bagi saya adalah mengampuni, maka tidak berarti melupakan. Mengingat kesalahan-kesalahan yang dibuat terdahulu, paling tidak memberikan konsep pembelajaran atau peringatan.


Bukan dalam tendensi mendendam ya.


Buat saya pribadi, tidak melupakan ini melatih kita berkesadaran penuh untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Belajar untuk mengetahui batas-batas apa yang tidak boleh dilalui. Menelaah siapa yang bisa kita percaya, dan sejauh mana kepercayaan itu bisa diberikan.


Pengalaman buruk, kesalahan dan pengkhianatan ini akan menjadi pelajaran yang mahal bagi diri sendiri. Tentunya hal-hal ini yang bisa menuntun saya pribadi untuk menjadi lebih bijaksana.


Namun kembali lagi, sebagai kodrat manusia yang tidak sepenuhnya bisa zen dan mindful, terkadang melupakan tidak semudah konsep dan teorinya. Rasa mangkel kayaknya bisa balik seketika ketika terlintas dengan memori yang tidak enak. Atau ketika dihadapkan pada orang yang yang menyebalkan secara tidak sengaja. Kalau begini, bermain peranlah saya untuk menjadi pura-pura menerima.


Paling tidak, setelah sekelebat, hal buruk atau orang-orang problematik ini tidak saya biarkan mendobrak batas yang sudah dibangun tadi.


Tidak ada baju baru, mungkin hanya cuci baju.


Satu hal yang juga hilang dari tradisi lebaran sejak bertahun lalu adalah beli baju lebaran. Kayaknya terakhir saya mengalokasikan waktu dan biaya untuk beli baju baru adalah 7 tahun lalu. Itupun terpaksa karena ada sesi foto keluarga dengan tema tertentu.


Kalau dipikir-pikir tidak ada baju baru ini sebenarnya lumayan filosofis, kalau mau dicocok-logikan. Tidak membeli baju baru bisa jadi cara sederhana untuk menerima diri apa adanya, merasa cukup dengan yang sudah dimiliki. Sementara mencuci baju seperti proses memaafkan dan melepaskan, membersihkan hal-hal yang tidak perlu dibawa lagi. Jadi mungkin, lebaran bukan soal mengganti semuanya, tapi tentang menerima yang ada dan merapikan yang sudah lewat agar bisa melangkah lebih ringan.

Lebaran bukan lagi sekadar momen untuk mulai dari nol, tapi ruang untuk membersihkan hal-hal yang menempel sepanjang tahun. Memaafkan, melepaskan, dan memilih mana yang masih layak dibawa ke depan.

Lebaran membawa kita untuk memaafkan diri sendiri, untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Sebagai pengingat juga untuk melupakan hal-hal yang membebani baik eksternal maupun internal, dengan tetap membentengi diri agar lebih kuat dan menghadapi setahun yang akan datang.

Selamat lebaran teman-teman.

Comments

Popular Posts